Jaksa Penuntut Umum Dinilai Tidak Mampu Kuatkan Dakwaannya,Arwan Koty Layak Dibebaskan

0
20

Jakarta,meraknusantara.comTerdakwa korban dugaan atas laporan palsu kecewa terhadap Sigit SH, Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Pasalnya, Terdakwa yang berharap kepastian Hukum harus bersabar menghadapi  ujian dari sang Jaksa Penuntut Umum.

Persidangan yang telah diagendakan Rabu 1/4/21. Dengan agenda sidang keterangan saksi pelapor, Berharap Jaksa Penuntut Umum Sigit SH, Bisa menghadirkan direktur PT Indotruck Utama Bambang Prijono sebagai saksi pelapor atas laporan Polisi Nomor: LP/B / 0023 1/2020 /Bareskrim tanggal 13 Januari 2020 tentang laporan palsu dan atau keterangan palsu,

Sidang dengan agenda pemeriksaan saksi pelapor yang seharusnya digelar Rabu 1/4/21, Terpaksa harus ditunda, Lantaran Jaksa Penuntut Umum Sigit SH dinilai tidak mampu menghadirkan Bambang Prijono direktur anak perusahaan raksasa.

Oleh Sigit SH Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, Arwan Koty didakwa pasal 220 dan atau pasal 317 KUHP, tentang laporan dan atau keterangan palsu, Namun Jaksa Penuntut Umum tersebut Tidak dapat menguatkan DakwaanNya sebagaimana surat Dakwaan yang telah dibacakannya di persidangan minggu lalu.

Dalam memeriksakan dan menyidangkan perkara dugaan Kriminalisasi terhadap Arwan Koty, Aris Toteles SH, salahsatu Pensihat Hukum Arwan Koty menilai Majelis Hakim tidak professional, Selain menyidang perkara pidana hingga larut malam, Majelis Hakim juga tidak tegas terhadap Jaksa Penuntut Umum, Seharusnya majelis Hakim instruksikan Jaksa Penuntut Umum untuk hadirkan saksi pelapor, Sehingga perkara ini menjadi terang benderang.

jika memang Jaksa Penuntut Umum tidak mampu menghadirkan saksi pelapor, Dapat dipastikan Jaksa Penuntut Umum tidak mampu menguatkan dakwaanNya, Sehingga Klien Kami Arwan Koty layak dibebaskan.”ujar Aris SH.

“Ini menyangkut nasib orang mas.. kasian klien kami, Dia sudah menjadi korban saat klien kami Arwan Koty  membeli alat berat Excavator dari PT Indotruck utama, Tujuan klien kami membeli Excavator untuk mengembangkan bisnis tambangNya yang berlokasi di Nabire Papua.”kata Aris Toteles SH.

Selanjutnya dibuatlah Perjanjian Jual beli (PJB) antara Arwan Koty dengan PT.Indotruck untuk pembelian 1 unit Excavator Volvo EC 210D seharga Rp 1.265.000.000 ,(satu milyar dua ratus enam puluh lima juta rupiah),

sidang dugaan kriminalisasi terhadap Arwan Koty di pengadilan Negeri Jakarta Selatan

Transaksi dilakukan pada tahun 2017. Saat itu Arwan Koty sudah membayar pelunasan untuk pembelian Excavator sesuai dengan harga yang telah ditentukan oleh PT Indotruck dan telah disepakati oleh klien kami, Namun hingga kini Excavator yang telah dibayar lunas oleh Arwan Koty tak kunjung di serahterimakan oleh pihak Indotruck kepada Arwan Koty.

Terkait perkara tersebut, klien kami Arwan Koty telah mengajukan  permohonan Gugatan wanprestasi di Pengadilan Negeri Jakarta Utara dengan Nomor perkara No.181/Pdt.G/2020. Permohonan Gugatan wanprestasi yang dimohonkan Oleh Arwan Koty terhadap PT Indotruck Utama dikabulkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Melalui putusanNya, Majelis Hakim pengadilan Negeri Jakarta Utara yang memeriksa dan mengadili perkara wanprestasi dengan Nomor perkara No.181/Pdt.G/2020, Menghukum PT.Indotruck Utama harus membayar kerugian materil kepada Arwan Koty secara sekaligus dan seketika, Yakni sebesar Rp1.265.000.000., (satu miliar dua ratus enam puluh lima juta rupiah).”ujar Aris SH.

Menyikapi sidang perkara ini, Harapan kami agar Majelis Hakim objektif, Kami berharap mejelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini mempertimbangkan putusan perkara wanprestasi dengan Nomor perkara No.181/Pdt.G/2020, dan putusan persidangan di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).

Hingga berita ini disiarkan pihak pelapor dari PT Indotruck Utama belum bisa dimintai keterangan terkait perkara ini.

(Rhd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here