Dinilai Tidak Objektif,Netralitas Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Arlandi Triyogo SH,MH,Patut Dipertanyakan

0
76

Jakarta, meraknusantara.comJaksa Penuntut Umum hadirkan Direktur PT. Bahtera Lintas Globalindo Tommy Tuasihan sebagai saksi dalam sidang perkara dugaan laporan palsu dengan terdakwa Arwan Koty di pengadilan Negeri Jakarta Selatan 18/3/21.

Persidangan dengan agenda pemeriksaan saksi itu menuai mosi tidak percaya akan netralitas Ketua Majelis Arlandi Triyogo SH MH, yang memeriksa dan mengadili perkara pidana pasal 220 KUHP dan atau pasal 317KUHP yang didakwakan terhadap Arwan Koty, warga Gambir Jakarta Pusat.

Pasalnya, Saat sidang berlangsung, majelis hakim terkesan memihak dan
mengarahkan saksi serta membatasi kewenangan Hak terdakwa untuk mengungkap Fakta kebenaran yang sebenarnya terjadi. Sehingga sempat terjadi Argumentasi antara Penasihat hukum Arwan Koty dengan saksi Tommy Tuasihan.

Pihak terdakwa menilai majelis Hakim diragukan NetralitasNya, Saat pemeriksaan saksi majelis Hakim terkesan mengaminkan keterangan saksi tanpa mengingatkan agar saksi  memberikan keterangan yang sebenarnya (sesuai fakta).

Dalam kesaksiannya Tommy Tuasihan terkesan berbelit belit, Selain memberikan keterangan bohong, Keterangan saksi Tommy Tuasihan juga tidak dilengkapi bukti dokumen yang dapat menguatkan kesaksiannya,Yang lebih utama Dokumen terkait pelayaran.

Saksi Tommy Tuasihan adalah saksi yang mengetahui duduk permasalahan seharusnya Majelis Hakim mengingatkan agar saksi memberikan keterangan sesuai Fakta untuk mengungkap kebenaran dan penegakan supremasi hukum.

Fakta persidangan nampak keberpihakan majelis Hakim, Sebab Majelis Hakim nampak mengarahkan saksi, Sehingga Netralitas ajelis Hakim dikeluhkan oleh para pengunjung sidang, Nurwandi SH, Penasihat Hukum Arwan Koty juga menilai majelis telah berupaya mengiring opini dan memihak kepada saksi.

surat penyitaan yang  diajukan Oleh penyidik dan dikabulkan , Surat  penyitaan diduga tidak ada kaitannya dengan perkara

Tidak hanya membatasi pertanyaan penasehat hukum Arwan Koty, Majelis Hakim juga mengingatkan Tidak harus dipaksa menjawab pertanyaanNya.

Menurut keterangan Nurwandi SH, Dari Kantor Advokat Yayat Surya Purnadi SH MH,YSP & Partners. yang mendampingi terdakwa Arwan Koty. Saksi Tommy Tuasihan dinilai tidak punya integritas dan tanggung jawab terhadap pekerjaan sebagai ekspedisi jasa pengirim Excavator ke Nabire.

Nurwandi SH menilai, Dalam kesaksiannya Tommy Tuasihan dinilai merekayasa terkait pengiriman Excavator ke Nabire, Sebab proses pengiriman Excavator tersebut tanpa dilengkapi documen resmi, Diantaranya Bil of Loading (BL), Manifest Cargo dan surat izin berlayar lainya. Sebab tanpa adanya dokumen resmi pelayaran, Barang yang dibawa tersebut bisa dikatagorikan barang ilegal.

Terkait pembongkaran Excavator milik terdakwa Arwan Koty, saksi Tommy mengatakan pembongkaran dilakukan di pelabuhan Nabire, Dalam berita acara pemeriksaan, saksi Tommy mengatakan pembongkaran di pelabuhan Polair Papua.

Mendengar keterangan saksi Tommy, penasehat hukum Arwan Koty, Dari kantor Advokad Yayat Surya Purnadi, yang diwakili Nurwandi SH, sempat menanyakan kepada saksi, “masa seorang saksi Direktur, pemilik perusahaan tidak memiliki documen pengiriman barang dari Pelabuhan Tanjung Priok ke Nabire, Manifest Cargo, BL

Apakah ada surat perjanjian antara saksi dengan terdakwa untuk pengiriman barang tersebut? adakah perjanjian saksi dengan pemilik kapal untuk mengirim Excavator terdakwa? apakah saksi pernah menghubungi terdakwa terkait pengiriman Excavator tersebut?

Menyikapi beberapa pertanyaan yang di cecar penasehat hukum terdakwa, saksi nampak terlihat panik dan tidak bisa menjawab, Saksi Tommy justru malah emosi dan keteganganpun sempat terjadi didalam ruang sidang.

Namun lagi lagi majelis hakim nampak memihak pada saksi dan pelapor Sebab majelis Hakim seakan mengarahkan saksi Tommy agar mengatakan berikan keterangan supaya sesuai dengan keterangan Soleh Nurcahyo saksi sebelumnya, Majelis juga seolah oleh mengancam terdakwa dengan mengatakan tidak usah terlalu ngotot memberikan tanggapan toh juga kamu tidak ditahan karena ancaman hukumannya tidak bisa ditahan,”ucap majelis.

kepada wartawan Nurwandi SH mengatakan, Dalam agenda sidang pemeriksaan saksi ini tampaknya Palu Hakim diduga sudah diBeli, Dalam perkara ini Arwan Koty merupakan korban atas pembelian Excavator yang telah dibayar Lunas, Bukanya Excavator yang diterimanya justru malah dikriminalisasi,”ujar Nurwandi SH.

sidang dugaan kriminalisasi terhadap Arwan Koty di pengadilan Negeri Jakarta Selatan

Dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum juga tidak fokus dengan dakwaannya terkait laporan palsu dan tentang serah terima Excavator, di persidangan Jaksa hanya bertanya sekitar utang piutang, Ironisnya, Hal itu diakomodir oleh Majelis Hakim.

“Saya sangat kecewa dengan prilaku Hakim saat memeriksa dan mengadili perkara Klien kami, Oleh karena itu kami akan membuat pengaduan ke Badan pengawas Mahkamah Agung RI (Bawas MA) Badan pengawas Kejaksaan RI dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Agar perkara ini turut dapat pengawasan.

Hal ini akan kami tempuh, Dalam memeriksa dan mengadili perkara pidana terhadap klien kami, Majelis Hakim dinilai tidak objektif.”ujar Nurwandi SH.

“Perlu dikatehui bahwasanya majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini adalah majelis dan penitera yang sama, Saat Klien kami Arwan Koty mengajukan permohonan Praperadilan ketika Klien kami ditetapkan sebagai tersangka atas laporan palsu oleh penyidik Tipideksus Mabes Polri.

Menurut informasi hakim Arlandi Triyogo SH pernah dilaporkan ke Komisi Yudisial dan Badan Pengawasan Hakim Mahkamah Agung, Wajar saja jika kami menilai NetralitasNya patut di pertanyakan,”ujar Nurwandi SH. mengakhiri perbincangannya kepada wartawan.

Hingga berita ini dirilis, Pihak pelapor maupun Saksi Tommy Tuasihan belum dapat dimintai keterangan terkait perkara itu.

(Red)