Diduga Menjadi Koban Kriminalisasi Fatir 14 Tahun Terancam kehilangan Masa Depannya

0
155

Jakarta,meraknusantara.com –FR 14,tahun, Siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Salafiyah Sawangan Depok, Sejak 23 Oktober 2020 lalu hingga berita ini diturunkan masih ditahan di Polda Metro Jaya dengan status tahanan titipan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

FR ditangkap oleh petugas terkait aksi unjuk rasa pada tanggal 08 Oktober 2020 di Jakarta. Oleh penyidik, FR yang masih berumur 14 tahun tersebut disangkakan Pasal berlapis, Yakni Pasal 170 KUHP, 214 subsider pasal 212 KUH Pidana, Pasal 211, 216 ayat (1), 218 dan atau Pasal 358 ayat (1) Jo. Pasal 55,56 KUH Pidana dan Pasal 160 KUH Pidana.

Saat ini Senin 16/11/20 perkara pidana yang mendera Fatir Syahri Ramadhan mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Menurut keterangan Orang FR. Padahal anak itu saat unjuk rasa berlangsung sedang berada dirumah dan tidak ikut demo.

FR diamankan oleh Jatanras Polda Metro Jaya di rumahnya diPengasinan Sawangan Kota Depok pada hari Kamis 22 Oktober 2020 dini hari sekitar pukul 02.00 Wib. Saat melakukan penangkapan terhadap FR. Anggota Jatanras Polda Metro Jaya, tanpa surat perintah penangkapan dan penahanan untuk keluarga. Alasannya. gara-gara dianggap sebagai salah satu admin peserta unjuk rasa yang ditemukan di dalam ponsel miliknya.

Achmad Saimima, ayah FR, anak dibawah umur yang kesehariannya bekerja sebagai Marbot kebersihan masjid mengadukan peristiwa naas yang menimpa anaknya kepada KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) dan menerangkan bahwa anaknya belum mengerti apa apa Achmad Saimima juga menjelaskan bahwa anaknya gemar main handphone.

Achmad Saimima Komisi Perlindungan Anak Indonesia karena khawatir akan kejiwaan anaknya yang akan terganggu dan sangat mengharap kepedulian dari pihak terkait menyangkut nasib anaknya secara manusiawi.

Kepada wartawan, Eka Sumanja,SH., selaku Penasehat Hukum Fatir Syahri Ramadhan, Yang mendampingi keluarga Fatir melapor ke lKomisi Perlindungan Anak Indonesia, mengatakan, Seharusnya pemerintah lebih bijaksana dalam melihat persoalan ini, Terlebih lagi ananda FR  ini kan masih dibawah umur, masih pelajar dan tidak mengerti Hukum.

Didampingi penasihat hukumnya, keluarga FR saat menjalani proses persidangan di PN jakarta pusat

Dalam melakukan proses Hukum, Penyidik seharusnya melakukan Restorative Justice sejalan dengan Pasal 40 ayat (1) tentang Konvensi Hak Anak (KHA) dan bukan melalui peradilan umum layaknya Penjahat.

mengingat anak tersebut masih berstatus sebagai pelajar aktif, Yang dalam waktu dekat akan mengikuti ujian sekolah sebagaimana surat keterangan Kepala MTs Salafiyah tertanggal 11 November 2020, Pada tanggal tersebut juga kami telah mengajukan Surat Permohonan Penangguhan Penahanan secara resmi tertulis kepada Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta melalui Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat.

Surat permohonan sudah kami kirim, Namun Hingga saat ini belum ada respon positif dari Pihak Kejaksaan, Kami berharap Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Dapat mendorong pihak pihak terkait agar anak tersebut mendapatkan keadilan serta mendapatkan Hak dasar berupa Pendidikan sebagaimana amanat Pasal 31 ayat (1) dan (2) UUD.”ujar Eka Sumanja SH.

Menyikapi perkara yang dialami oleh FR siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang masih dibawah umur, Hisar Sihotang. Ketua Umum Gerakan Cinta Indonesia (GRACIA) turut angkat bicara.

Kaoada wartawan Ketum Gracia mengatakan. “FRi Ramadhan
adalah aset Bangsa, Olehkarena itu, seharusnya Fatir Dilindungi. Bukanya malah di Kriminalisasi yang menempatkan anak tersebut kePenjara dan stigmatisasi terhadap kedudukan anak sebagai Narapidana.”ujar Hisar Sihotang.

Seharusnya pihak kepolisian maupun Kejaksaan lebih Objektif dalam melihat suatu perkara, Terlebih saat mencari dan menjadikan seseorang terkait aksi unjuk rasa 08 Oktober 2020 kemarin. Ketum Gracia juga mengatakan, jika akan menetap seseorang dalam aksi unjuk rasa kemarin, Seharusnya jangan mengorbankan anak yang masih di bawah umur.”ujar Hisar.

“Jika ingin mengembangkan kasus Terkait Aksi Demo 08 Oktober 2020 yang lalu, Cari dan tangkap aktor intelektual nya dong..jangan menumbalkan anak dibawah umur, Saya yahkin FR bukanlah aktor intelektual dalam aksi itu. Fatirn hanyalah segelintir orang yang jadikan tumbal demi prestasi.

(MatNur)