Prof.Dr Atja Sandjaja:Perbuatan Yang Dilakukan Para Tergugat Sangat Terang Benderang Merupakan Kualifikasi PMH Pasal 1365 KUHPerdata

0
92

jakarta,meraknusantara.com –Sidang gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) terhadap PT Indotruck Utama Tergugat I dan Tommy Tuasihan Tergugat II kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Utara 15/10/20 dengan agenda kesimpulan

Dalam kesimpulanya Penggugat Arwan Koty melalui kuasa hukumnya dari kantor HUKUM AGD & PARTNERS, Berharap Majelis Hakim Menerima serta mengabulkan seluruh Tuntutan Provisi para Penggugat.

Penggugat berharap majelis Hakim Mengabulkan seluruh gugatan Arwan Koty dan alfin seluruhnya serta untuk menjamin agar gugatannya tidak sia-sia dan hanya menang diatas kertas, Penggugat juga berharap agar mejelis hakim dapat meletakan Sita jaminan atas Benda bergerak maupun tidak bergerak milik Tergugat I dan Tergugat II.

Dalam persidangan sebelumnya, PT Indotruck maupun Tommy Tuasihan tidak menghadirkan saksi ahli maupun saksi fakta, sehingga Sidang di lanjutkan dengan angenda kesimpulan.

Perbuatan Melawan Hukum yang di lakukan oleh PT Indotruck yakni dimana PT Indotruck secara tanpa Hak telah menyerahkan 2 lembar Giro atas nama Alfin kepada Tommy Tuasihan tanpa persetujuan pemiliknya (Alfin). Giro atau nama Alfin dengan No EB 211206 tertanggal 17 Desember 2017 dan Giro No.EB 211207 tertanggal 17 januari 2018.Masing-masing Giro tersebut senilai Rp.500.000.000,-

prof.Dr.Atja Sandjaja SH.MH saat menjadi saksi ahli sidang PMH di pengadilan negeri jakarta utara

Meskipun dalam perkara a quo yang di cairkan oleh Tommy hanya Giro No.EB 211206, Namun perbuatan Tommy tersebut jugs dapat di kategorikan sebagai Perbuatan Melawan Hukum (PMH).

Perkara bermula Saat Arwan Koty dan Alfin berniat membeli alat berat Excavator Volvo EC 210D dan Excavator Volvo EC 350DL kepada PT Indotruck dengan cara Leasing, atas kesepakatan kedua belah pihak lalu dibuatlah surat pernyataan tanggal 18 September 2017 antara Arwan Koty, dengan PT Indotruck Utama yang dicatatkan pada Kantor Notaris Nelson Eddy Tampubolon, SH.

Dalam perjanjian tersebut Arwan Koty menyerahkan jaminan berupa Sertifikat Kios yang beralamat di Bukit Golfl Meditarania,1 BPKB mobil Mobilio Mitsubishi Triton, 1 BPKB mobil Toyota Hilux, 2 lembar Giro atas nama Arwan Koty dan 2 lembar Giro Atas nama Alfin. Masing-masing Giro senilai Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah). Giro tersebut diserahkan kepada perwakilan dari PT Indotruck Utama, selanjutnya dibuatkan bukti tanda terima 9 Oktober 2017.

Setelah di suruh menunggu beberapa waktu, Ternyata Leasing yang di janjikan oleh PT Indotruck tidak dapat memberikan kepastian, untuk pembiayaan 2 unit Excavator yang akan di beli oleh Penggugat, Bahkan Giro atas nama Alfin justru di pindah tangankan oleh PT Indotruck kepada Tommy, yang tidak ada kaitanya serta tidak ada hubungan dalam perjanjian.

“Perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yang melanggar Hak dan kewajiban seseorang yang mengakibatkan kerugian, Hal tersebut dikatan oleh mantan hakim Agung Atja San Djaja SH,MH, saat menjadi saksi ahli dalam sidang PMH terhadap PT Indotruck dan Tommy Tuasihan.

Akibat yang terjadi pada Perbuatan Melawan Hukum, Wajib adanya ganti rugi, Bagaimana caranya? Harus melalui pengajuan gugatan PMH ke pengadilan”. Atja San Djaja SH,MH.

Prof.Dr.Atja Sandjaja.SH,MH menjadi saksi ahli

Atja San Djaja SH,MH menegaskan, Suatu perbuatan yang tidak menimbulkan kerugian maka tidak bisa dikatakan Perbuatan Melawan Hukum, Pengertian dalam PMH saksi Ahli juga menjelaskan, Suatu peraturan yang melanggar undang undang dan perjanjian sehingga dapat menimbulkan kerugian adalah perbuatan melawa hukum.

Saat dikonfirmasi wartawan usai persidangan, Diving Safni SH, kuasa hukum penggugat mengatakan. “Gugatan PMH yang kami mohonkan karna tidak adanya etikat baik dari PT Indotruck maupun dari Tommy. Perbuatan yang di lakukan oleh PT Indotruck dan Tommy sangatlah terang benderang dan jelas merupakan kualifikasi Perbuatan Melawan Hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 KUHperdata. “ujar Diving SH.

Diving Safni SH juga menegaskan, Bukti-bukti Penggugat di dasari oleh bukti yang otentik maka kami mohon agar Majelis Hakim yang memeriksa perkara a quo ini dapat diputus secara serta merta, yakni putusan yang di putus sebelum putusan akhir, yang dapat di laksanakan dahulu (UIT VOOR BAR BIJ VOOR RAAD).

Saat akan dikonfirmasi wartawan usai persidangan, Kuasa Hukum PT Indotruck maupun kuasa Hukum Tommy Tuasihan tidak bersedia memberikan komentar.

Hingga berita ini di turunkan kuasa hukum PT Indotruck Utama dan kuasa hukum Tommy Tuasihan belum memberikan keterangan.

(MatNur)